Talkshow dan Buka Bersama Ma’had Al-Jami’ah Al-‘Aly

 

Malang – Pada hari Kamis, 13 Maret 2025 M / 13 Ramadhan 1446 H, telah diselenggarakan kegiatan Talkshow dan Buka Bersama yang bertempat di Halaqah Ma’had lantai 2. Acara ini merupakan kegiatan rutin yang bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi serta meningkatkan ukhuwah Islamiyah antara mahasantri, murobbi, dan mu’allim, khususnya dalam suasana bulan suci Ramadan. Acara ini diselenggarakan oleh BEM Ma’had Al-Jami’ah Al-‘Aly dan dihadiri oleh seluruh mahasantri, dewan murobbi, serta mu’allim Ma’had Al-Jami’ah Al-‘Aly.

Sebelum acara dimulai, seluruh mahasantri melaksanakan Khatmil Qur’an secara mandiri, di mana setiap mahasantri membaca satu juz sebagai bentuk ibadah dan persiapan spiritual dalam menyambut kegiatan ini. Setelah itu, acara resmi dibuka pada pukul 16.15 WIB oleh MC, Nasrul Amin. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Fahmi Azizi, sebagai bentuk doa bersama untuk para ulama, guru, dan orang-orang saleh yang telah mendahului, khususnya KH. Chamzawi Syakur dan KH. Ahmad Muzakki, sekaligus untuk memohon keberkahan dalam jalannya acara.

Selanjutnya, Ketua BEM Ma’had Al-Jami’ah Al-‘Aly, Azka Syauqi, memberikan sambutan. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh elemen Ma’had yang telah berkenan hadir, baik para mahasantri, murobbi, maupun mu’allim. Selain itu, beliau juga memohon maaf jika dalam acara ini terdapat kekurangan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ustadz Moch. Said, M.Pd sebagai perwakilan mu’allim. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pesan tentang kematian sebagai bahan renungan hidup dengan mengutip hadis:

“كفى بالموت واعظ”

“Cukuplah kematian sebagai pelajaran”.

Beliau juga mengingatkan agar setiap individu meninggalkan jejak kebaikan dalam kehidupan ini dengan meneladani para ulama terdahulu, seperti KH. Chamzawi dan KH. Ahmad Muzakki. Selain itu, beliau menekankan bahwa setiap perbuatan baik yang dilakukan akan menjadi warisan yang bermanfaat bagi generasi selanjutnya.

Kemudian dilanjutkan dengan sesi utama yaitu talkshow dengan tema “Menyikapi Tren #KaburAjaDulu“. Sesi ini menghadirkan Dr. Halimi Zuhdy, M.Pd. sebagai narasumber dan dipandu oleh Ulil Absor sebagai moderator. Talkshow ini bertujuan untuk mengkaji fenomena #KaburAjaDulu, yang tengah viral di media sosial di tengah berbagai permasalahan yang terjadi di Indonesia. Dalam diskusi ini, Dr. Halimi Zuhdy menganalisis tren tersebut dari berbagai perspektif, baik secara linguistik maupun agama, guna memberikan wawasan yang lebih mendalam kepada para peserta.

Dari sisi linguistik, kata “kabur” memiliki makna dasar berpindah tanpa izin, tetapi dalam konteks tren ini lebih bermakna majazi, yakni berpindah sementara untuk mencari pengalaman dan kebaikan. Sementara itu, dari sudut pandang Islam, perjalanan atau hijrah bukanlah tindakan melarikan diri dari masalah, melainkan upaya mencari keberkahan, sebagaimana perjalanan Rasulullah Saw. dari Makkah ke Madinah.

Selain itu, dalam talkshow ini juga dikaji ayat Al-Qur’an dalam Surah Al-Mulk ayat 15:

“هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ”

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”

Ayat ini menunjukkan pentingnya bergerak dan berusaha dengan keyakinan bahwa rezeki telah disiapkan oleh Allah. Dalam Islam, konsep safar (perjalanan) bukan sekadar perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga memiliki makna yang lebih luas dan mendalam. Perjalanan dapat menjadi sarana untuk menyingkap kesedihan (كشف التوهم), di mana seseorang dapat menemukan ketenangan hati dan solusi atas permasalahan yang dihadapi. Selain itu, safar juga menjadi bagian dari ikhtiar dalam mencari nafkah (اكتساب المعيشة), sebagaimana banyak dicontohkan oleh para sahabat Nabi yang berdagang ke berbagai negeri.

Tidak hanya itu, perjalanan juga berperan penting dalam menuntut ilmu (للعلم), di mana para ulama terdahulu rela menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Lebih dari itu, safar memungkinkan seseorang untuk mempelajari adab (في العلم والأدب), serta memperluas wawasan budaya dan sosial. Perjalanan juga dapat menjadi sarana untuk mencari teman yang baik (صحبة المجيد), yang dapat membawa pengaruh positif dalam kehidupan dan membantu dalam proses peningkatan diri. Dengan demikian, Islam memandang perjalanan sebagai aktivitas yang memiliki banyak manfaat, baik secara lahir maupun batin, selama dilakukan dengan niat yang benar dan tujuan yang baik.

Setelah sesi talkshow, acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Mudir Pusat Ma’had Al-Jami’ah, Dr. Ahmad Izzuddin, M.HI., dengan harapan agar nilai-nilai yang diperoleh dari kegiatan ini dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, acara berlanjut dengan Salat Maghrib berjamaah, diikuti dengan buka puasa bersama. Momen kebersamaan dalam berbuka puasa ini diharapkan dapat mempererat tali persaudaraan antara mahasantri, murobbi, dan mu’allim.

Demikian berita acara ini dibuat sebagai dokumentasi dari pelaksanaan kegiatan tersebut. Dengan adanya dokumentasi ini, diharapkan kegiatan serupa di masa mendatang dapat lebih terarah dan menjadi lebih baik. Semoga kegiatan yang telah dilaksanakan ini membawa manfaat serta keberkahan bagi seluruh peserta, mempererat ukhuwah Islamiyah, dan menjadi bagian dari amal jariyah yang terus mengalir pahalanya. Aamiin

 

Penulis : Narjun Najih
Editor : Miftahur Rohman