Email : msaa.al.aly@gmail.com
Istighotsah dalam Rangka Mujahadah Nishfu Sya’ban

Malang, Kamis (13/02/2025) – Malam Nishfu Sya’ban merupakan salah satu malam yang penuh keberkahan dan sangat dinantikan oleh umat Muslim. Pada malam ini, Allah Swt. membuka pintu ampunan dan mencatat takdir hamba-Nya untuk satu tahun ke depan.
Dalam banyak riwayat, disebutkan bahwa pada malam Nishfu Sya’ban, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, seperti shalat berjamaah, membaca surah Yasin sebanyak tiga kali, shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa. Di berbagai tempat, peringatan Nishfu Sya’ban sering kali disertai dengan kegiatan istighotsah, doa bersama, serta mujahadah sebagai bentuk introspeksi diri dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Demikian pula, para mahasantri Ma’had Al-Jami’ah Al-‘Aly turut menyelenggarakan kegiatan Istighotsah dalam rangka Mujahadah Nishfu Sya’ban pada Kamis, 13 Februari 2025 (Sya’ban 1446 H) di Masjid At-Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Acara ini dihadiri oleh para Mahasantri, Murobi, Pengasuh, serta Mudir Ma’had.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan istighotsah dan mujahadah yang dipimpin oleh Ustadz Agus Nurcahyo, S.Psi. Setelah itu, para hadirin menyimak mauidzoh yang disampaikan oleh Dr. Ahmad Izzuddin, M.H.I. selaku Mudir Ma’had, dan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Ghufron Hambali, S.Ag., M.H.I., selaku Koordinator Ma’had Al-Jami’ah Al-‘Aly.
Dalam mauidzhohnya, Dr. Ahmad Izzuddin menyampaikan pentingnya kegigihan dan komitmen tinggi dalam kehidupan, khususnya bagi para mahasantri. Beliau juga menjelaskan secara singkat asbabun nuzul QS. Al-Baqarah ayat 217.
Diceritakan bahwa Abdullah bin Jahsy adalah seorang pemuda yang sangat gigih. Suatu ketika, Rasulullah Saw. mengutusnya untuk mengintai kaum kafir. Namun, karena rasa geram, Abdullah bin Jahsy memanah salah satu musuh hingga tewas. Kejadian ini menimbulkan kegemparan di masyarakat karena terjadi di bulan haram, yang merupakan bulan gencatan senjata. Rasulullah Saw. tidak berkenan atas tindakan tersebut, karena seolah-olah menunjukkan bahwa umat Muslim tidak memegang teguh komitmen. Abdullah bin Jahsy pun merasa sangat bersalah hingga Allah Swt. menurunkan ayat berikut
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيْهِۗ قُلْ قِتَالٌ فِيْهِ كَبِيْرٌۗ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَكُفْرٌۢ بِهٖ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَاِخْرَاجُ اَهْلِهٖ مِنْهُ اَكْبَرُ عِنْدَ اللّٰهِۚ وَالْفِتْنَةُ اَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِۗ وَلَا يَزَالُوْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ حَتّٰى يَرُدُّوْكُمْ عَنْ دِيْنِكُمْ اِنِ اسْتَطَاعُوْاۗ وَمَنْ يَّرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَاُولٰۤىِٕكَ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ وَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ٢١٧
Artinya; Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, “Berperang dalam bulan itu adalah (dosa) besar. Namun, menghalangi (orang) dari jalan Allah, ingkar kepada-Nya, (menghalangi orang masuk) Masjidilharam, dan mengusir penduduk dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) dalam pandangan Allah. Fitnah (pemusyrikan dan penindasan) lebih kejam daripada pembunuhan.” Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu jika mereka sanggup. Siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya lalu dia mati dalam kekafiran, sia-sialah amal mereka di dunia dan akhirat. Mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya
Setelah turunnya ayat ini, Abdullah bin Jahsy merasa lebih tenang dan bahagia. Untuk menunjukkan komitmennya sebagai seorang pemuda Muslim, ia pun berdoa kepada Allah Swt. agar dalam pertempuran nanti, ia dipertemukan dengan lawan yang paling kuat sehingga jika ia gugur, ia bisa menjadikan lawannya sebagai saksi di hadapan Allah. Doa ini dikabulkan oleh Allah, dan Abdullah bin Jahsy gugur dalam Perang Uhud, menjadi salah satu syuhada yang matinya paling mengenaskan setelah Hamzah bin Abdul Muthalib.
Dari kisah ini, terdapat pelajaran bahwa seorang pemuda harus memiliki kegigihan dan komitmen tinggi dalam hidup. Dengan begitu, seseorang dapat menghadapi berbagai kesulitan dan belajar dari tantangan hidup. Sebab, tanpa komitmen, tujuan hidup akan kehilangan makna.
Dengan menghidupkan malam Nishfu Sya’ban, diharapkan para mahasantri dapat meraih keberkahan, meningkatkan kualitas diri, serta semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt. Semoga kegiatan ini membawa manfaat spiritual bagi seluruh peserta dan menjadi inspirasi dalam meniti kehidupan yang lebih baik.
Penulis : Silvia Rahmah
Editor : Miftahur Rohman